Makalah Teori
Logika
AGAMA,
LOGIKA, ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN
Disusun Oleh :
Juprianto
Npm : 14-012-111-00
Jurusan : Ilmu Komunikasi
Dosen : Drs. M.Silalahi, MM

FAKULTAS
FISIP
UNIVERSITAS DARmA AGUNG
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa , Karena rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan
dan dapat menyusun makalah tentangg “Peran Agama, logika, ilmu pengetahuan
dan filsafat ”. Guna memenuhi
tugas mata kuliah teori logika
Pada kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan penyusunan maklah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah
ini masih belum sempurna. Oleh karen itu, penulis mengharapkan saran dan kritik
membangun yangg dtunjukan demi kesempurnan makalah ini. semoga makalah ini bisa
bermanfaat bagi semua pihak.
Medan , Mei 2015
juprianto
DAFTAR ISI
BAB I Pendahuluan
Latar
Belakang
BAB II Permasalahan
Ilmu pengetahuan
menurut beberapa ahli
Ilmu pengetahuan
Filsafat menurut
beberapa ahli
Filsafat
Manfaat logika
Tokoh-tokoh logika
Hubungan
logika, bahasa dan komunikasi
Definisi logika
Nilai kebenaran agama
Nilai dalam agama
Fungsi agama bagi masyarakat
Peran agama bagi masyarakat
Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu
Pengertian agama menurut para sosiolog
Pengertian agama secara umum
BAB III KESIMPULAN
BAB III DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Untuk mengetahui mengapa kita perlu untuk mempelajari suatu
ilmu, maka kita harus terlebih dahulu
mengenal ilmu tersebut. Supaya kita dapat mengetahui ilmu tersebut, maka
kita harus mencari tahu asal-usul ilmu tersebut, mulai dari pertama kali ilmu
tersebut muncul, sejarah dan perkembangannya, sampai kita mengetahui mengapa
kita harus mempelajari ilmu tersebut dan kegunaannya dalam kehidupan kita.
Dalam makalah ini, kita akan membahas mencari tahu apa
sebenarnya Peran Agama, logika, ilmu pengetahuan dan
filsafat dalam kehidupan,
darimana awalnya munculnya mengapa kita harus perlu mempelajarinya dan apa saja
kegunaan dalam kehidupan sehari-hari .
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Agama Secara Umum
Istilah Agama dalam bahasa sansekerta terdiri dari kosa kata ”a” berarti “tidak” dan “gama” yang berarti kacau. Jadi kalau kedua kata itu digabungkan maka agama berarti tidak kacau. Istilah yang ke dua adalah “ugama” yang berarti “peraturan”, “tata tertib”, “hukum taurat”. Dari kedua kata diatas dapat disimpulkan bahwa agama adalah upaya manusia untuk mengaitkan dan menyesuaikan seluruh hidupnya dengan tata tertib, hukum serta peraturan Ilahi. Sehingga relasi dengan yang Ilahi, manusia dan alam dapat berjalan dengan baik dan tertib.
Dalam bahasa latin agama’ disebut “religeo” kata ini berasal dari akar kata “religere” yang berarti “mengembalikan ikatan”, “mengikatkan kembali”. Dari istilah ini apat diartikan bahwa “agama” usaha manusia untuk mengembalikan, memulihkan hubungan yang rusak antara manusia dengan Tuhan . Hubungan yang rusak antara manusia dengan Tuhan pertama sekali terjadi ketika manusia (Adam dan Hawa) jatuh dalam dosa.
B.
Pengertian Agama Menurut Para
Sosiolog
Guna mempelajari bagian ini kita
akan melihat pengertian agama menurut para sosiolog : menurut Emile
Durkhien “agama merupakan kekuatan yang amat mempengaruhi sikap hidup
manusia secara individual maupun sosial”. Sementara menurut Franz Dahler
mengatakan” agama adalah hubungan manusia dengan kekuasaan yang suci, dimana
kekuasaan yang suci tersebut lebih tinggi dari adanya manusia”. Hal yang sama
dengan ini Banawiratman mengatakan “bahwa agama bukan hanya ajaran
teoritis, merumuskan iman dan mengarahkan prilaku orang beriman, melainkan juga
didalamnya terdapat norma dan aturan, perintah, dan larangan yang berkenaan
dengan etika dan moral masyarakat.Dari beberapa pengertian di atas dapat kita menarik benang merah, bahwa nilai-nilai agama sudah ada dalam diri manusia dan nilai-nilai tersebut sangat mempengaruhi nilai hidup manusia sehingga ia memiliki kesadaran bahwa di luar dirinya ada sesuatu yang lebih tinggi, lebih suci dari dirinya.
C.
Fungsi agama sebagai kontrol sosial yaitu :
- Agama meneguhkan kaidah-kaidah susila dari adat yang dipandang baik bagi kehidupan moral warga masyarakat.
- Agama mengamankan dan melestarikan kaidah-kaidah moral ( yang dianggap baik ) dari serbuan destruktif dari agama baru dan dari system hokum Negara modern.
D.
Peran
agama bagi masyarakat
- Agama memiliki fungsi yang vital, yakni sebagai salah satu sumber hukum atau dijadikan sebagai norma.
- Agama mengatur bagaimana gambaran kehidupan sosial yang ideal, yang sesuai dengan fitrah manusia.
- Agama memberikan contoh yang konkret mengenai kisah-kisah kehidupan sosio-kultural manusia pada masa silam, yang dapat dijadikan contoh yang sangat baik bagi kehidupan bermasyarakat di masa sekarang.
- Kita dapat mengambil hikmah dari dalamnya. Meskipun tidak ada relevansinya dengan kehidupan masyarakat zaman sekarang sekalipun, setidaknya itu dapat dijadikan pelajaran yang berharga, misalnya agar tidak terjadi tragedi yang sama di masa yang akan datang.
E.
Fungsi
agama bagi masyarakat
- Fungsi Edukatif; ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus dipatuhi; ajaran agama berfungsi menyuruh dan melarang. Dan karena unsur suruhan dan larangan ini telah membimbing pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan baik menurut ajaran agama masing-masing;
- Fungsi Penyelamat; keselamatan yang diberikan mencakup dua alam, yakni dunia dan akhirat.
- Fungsi Pendamaian; melalui tuntunan agama orang yang bersalah atau berdosa dapat mencapai kedamaian batin, misalnya dengan cara bertobat, pencucian atau penebusan dosa;
- Fungsi Social Control; ajaran agama yang berfungsi sebagai norma dapat menjadi pengawasan sosial secara individu maupun kelompok;
- Fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas; secara psikologis penganut agama yang sama akan merasa memiliki kesamaan dan satu kesatuan; hal ini akan membina rasa solidaritas yang bahkan dapat mengalahkan rasa kebangsaan;
- Fungsi Transformatif, ajaran agama dapat merubah seseorang/kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya;
- Fungsi Kreatif; ajaran agama mendorong seseorang/kelompok untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan pribadi maupun orang lain, melakukan inovasi dan penemuan baru;
- Fungsi Sublimatif; ajaran agama mengkusudkan segala usaha manusia, selama tidak bertentangan dgn norma agama, bila dilakukan dengan tulis lillahi ta’ala maka termasuk ibadahan
F.
Nilai
dalam agama
- Nilai spiritual yang tetap menjaga agar masyarakat tetap konsisten dalam menjaga stabilitas lingkungan
- Nilai kemanusiaan yang mengajarkan manusia agar dapat saling mengerti satu sama lain, dan dapat saling bertenggang rasa.
G. Nilai kebenaran agama
- Secara filosofis, kebenaran yang sebenarnya adalah satu, tunggal, dan tidak majemuk. Yaitu sesuai dengan realitas. Dalam konteks agama, semua agama ingin mencapai realitas tertinggi (the ultimate reality). Islam dan Kristen menerjemahkan realitas tertinggi itu sebagai Allah (dengan pengucapan sedikit berbeda), Yahudi menyebutnya Yehova, ini berarti bahwa yang dikejar sebagai realitas tertinggi itu adalah satu. Prithjof Schoun mengatakan, bahwa semua agama itu sama pada alam transendental. Pada alam ini semua agama mengejar realitas tertinggi.
- Secara Sosiologi, menjadikan proses pencapaian dan penerjemahan Realitas Tertinggi, menjadikan klaim agama berbeda. Islam memandang bahwa agama nyalah yang paling benar, begitu juga dengan agama lainnya.
PERAN LOGIKA
H. DEFINISI LOGIKA
The Liang Gie dalam bukunya
Dictionary of Logic (Kamus Logika) menyebutkan: Logika adalah bidang
pengetahuan dalam lingkungan filsafat yang mempelajari secara teratur asas-asas
dan aturan-aturan penalaran yang betul (correct reasoning).
Menurut Mundiri dalam bukunya
tersebut Logika didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari metode dan
hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran
yang salah.
Secara etimologis, logika adalah
istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos.
Kata logos berarti: sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (fikiran),
kata, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos berarti mengenai sesuatu yang
diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai
percakapan atau yang berkenaan dengan ungkapan lewat bahasa. Dengan demikian,
dapatlah dikatakan bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran
yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika
disebut logike episteme atau dalam bahasa latin disebut logica scientia yang
berarti ilmu logika, namun sekarang lazim disebut dengan logika saja.
Definisi umumnya logika adalah
cabang filsafat yang bersifat praktis berpangkal pada penalaran, dan sekaligus
juga sebagai dasar filsafat dan sebagai sarana ilmu. Dengan fungsi sebagai
dasar filsafat dan sarana ilmu karena logika merupakan “jembatan penghubung”
antara filsafat dan ilmu, yang secara terminologis logika didefinisikan: Teori
tentang penyimpulan yang sah. Penyimpulan pada dasarnya bertitik tolak dari
suatu pangkal-pikir tertentu, yang kemudian ditarik suatu kesimpulan.
Penyimpulan yang sah, artinya sesuai dengan pertimbangan akal dan runtut
sehingga dapat dilacak kembali yang sekaligus juga benar, yang berarti dituntut
kebenaran bentuk sesuai dengan isi.
I.
Hubungan Logika, Bahasa dan Komunikasi
Sudah
dijelaskan di atas bahwa logika merupakan hasil pertimbangan akal pikiran yang
diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Jelaslah bahwa logika
memiliki pertalian yang erat dengan bahasa. Jadi apabila kita ingin mempelajari
logika, mulailah dengan melihat hubungan antara bahasa dan logika atau
sebaliknya.
Bahasa (yang diucapkan) adalah bentuk lahir dari proses berfikir yang bersifat
batiniah. Dalam konteks ini berpikir dapat dirumuskan sebagai ‘berbicara dengan
diri sendiri di dalam Proses berbicara sendiri di dalam batin tidak dapat
dilihat. Apa yang dipikirkan oleh seseorang tidak dapat diketahui. Hanya
apabila seseorang telah mengatakan atau mengucapkan apa yang dipikirkannyalah
dapat diketahui isi pikiran orang itu. Jadi, bahasa adalah ungkapan pikiran.
Bahasa yang diungkapkan dengan baik merupakan hasil dari proses berpikir yang
baik dan tertib. Demikian pula bahasa yang diungkapkan dengan berbelit-belit,
tidak tertata merupakan penanda proses berfikir yang rancu.
Dapat
dijelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika),
akan tergantung dari baik-buruknya alat bahasa yang digunakan yang tentunya mempengaruhi
efektivitas komunikasi. Bahasa yang sulit dimengerti akan susah ditangkap oleh
komunikan dan dapat menyebabkan miss understanding atau isi pesan yang
ditangkap tidak sesuai dengan yang diinginkan, sehingga tujuan komunikasi tidak
tercapai
Penggunaan bahasa sebagai alat logika harus memperhatikan
perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan bahasa sebagai alat
kesusastraan. Kita ambil contoh dari pernyataan “Lukisan itu tidak jelek”, maka
yang saya maksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, atau saya bermaksud
lukisan itu belum dapat dikatakan indah, namun saya tidak berani untuk
mengatakan bahwa lukisan itu jelek. Logika hanya dapat memperhitungkan
penilaian-penilaian yang isinya dirumuskan secara seksama, tanpa suatu nilai
perasaan.
Penggunaan bahasa sebagai alat dari logika masih memiliki
kekurangan. Contohnya puisi yang diubah ke dalam bentuk prosa. Puisi tadi akan
kehilangan nilai puisi-nya, pikiran yang tadi muncul didalam puisi dengan
indahnya tidak lagi menghantarkan maknanya kepada si pembaca. Hakekat
kesusastraan berada di atas hubungan dan batas-batas logika, bahkan keindahana
dalam puisi bertentangan syarat-syarat logika.
Begitu pula terjadi didalam peribahasa,
perumpamaan-perumpamaan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mungkin dapat
dimengerti seperti “bintang lapangan”, “kupu-kupu malam”. Syarat-syarat logika
dalam pembentukan peribahasa diabaikan didalam susunan kata –katanya dan
isinya.
Bahasa sebagai alat logika memiliki
kekurangan–kekurangan, karena sebagaian besar bahasa berkembang dan dipengaruhi
oleh proses berpikir secara pre-logis (tidak logis) seperti simbolisme didalam
mitologi.
Jadi, bahasa memiliki dua fungsi yang dilihat dari segi
perkembangannya. Bahasa lebih mudah digunakan pada kesusastraan daripada
sebagai alat pemikiran ilmiah umumnya khususnya pada logika.
J.
TOKOH-TOKOH
LOGIKA
·
Aristoteles
(384-322 SM): mempelopori perkembangan logika sejak awal.
·
Boethlus
(489-524 M): menterjemahkan buku logika dari bahasa yunani ke bahasa latin.
·
Al-Farabi
(873-950 M): menterjemahkan karya aristoteles secara menyeluruh menjadi 4 judul
buku : Kutubul manthiqil-tsamaniat: Muqaddamat Isaguji Allati Wadha’aha
Purpurius; Risalat-filmanthiqi, al-qaulu fi saraaitil-yaqini (merumuskan
syarat-syarat kombinasi dari Aristoteles) dan Risalat filQias, fushulun
Yatalju ilaiha fi shina’atil-Manthiki (membahas bentuk-bentuk silogisme dan
merumuskan persyaratan berdasarkan buku Aristoteles).
·
Joan
stuart Mill : mempertemukan system induksi dengan system deduksi
·
George
Boole dan Augustus de Morgan : menggunakan symbol-simbol dalam analisis
matematis secara luas dan de Morgan mengembangkan tentang relasi dan negasi
·
John
Venn : menyempurnakan analisis logis dari Boole dengan merancang diagram
lingkaran yang kemudian dikenal dengan diagram Venn untuk menggambarakan
hubungan-hubungan dan memeriksa sahnya penyimpulan dari silogisme
K.
Manfaat
Logika
Logika dapat digunakan dalam semua lapangan ilmu
pengetahuan. Peranan Logika dalam IPTEK. Logika mengantarkan manusia untuk
berdaya abstraksi. Hal ini erat kaitanya dengan alam pikiran manusia. Alam
pikiran manusia berkembang menurut dua hal:
Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purbakala
hingga saat ini. Perkembanagn alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai
akhir hayatnya Logika mengarahkan manusia berfikir yang konstruktif dan benar
Manusia diarahkan untuk berfkir secara labih konstruktif dan benar. Hal ini
dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan dari premis-premis ada atau
penarikan kesimpulan secara deduktif dengan mengunakan pola piker yang disebut
selogisme atau pola-pola lain.
Logika mengantarkan manusia untuk menyelesaikan masalah
secara konstruktif dan benar Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu,
kemudian keingintahuan itu dilaksanakan dengan melakukan pengamatan dan percobaan
serta penalaran. Percobaan bertujuan menimbulkan gejala dalam lingkungan yang
terkendali. Data yang dikumpulkan selanjutnya akan dianalisa dengan metode
ilmiah tertentu untuk memperoleh kesimpulan yang logis, yang dapat diterima
dengan akal sehat.
L.
Penerapan
Logika Dalam kehidupan sehari-hari
Kegiatan yang membutuhkan fungsi
logika
Mengerjakan tugas-tugas akademik
Memasak
Barmain game computer
Membuat gambar prespektif
Membaca Koran
FILSAFAT & ILMU PENGETAHUAN
M. FILSAFAT
Istilah filsafat berasal dari
bahasa Yunani: ”philosophia”. Seiring perkembangan jaman akhirnya dikenal juga
dalam berbagai bahasa, seperti : ”philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman,
Belanda, dan Perancis; “philosophy” dalam bahasa Inggris; “philosophia” dalam
bahasa Latin; dan “falsafah” dalam bahasa Arab.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang
yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.
Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa
dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi
yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
Para
filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang
berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari
dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
Secara
etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga
dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia :
kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan.
Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam
arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan
pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang
dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang
berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya
Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang
meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika,
retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi
yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud
bagaimana hakikat yang sebenarnya.
N. FILSAFAT MENURUT
BEBERAPA AHLI:
- Al Farabi
Filsafat
adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya.
- Plato ( 428 -348 SM )
Filsafat
tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
- Aristoteles ( (384 – 322 SM)
Bahwa
kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan
demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab
telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
- Cicero ( (106 – 43 SM )
Filsafat
adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga
mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
- Johann Gotlich Fickte (1762-1814 )
Filsafat
sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi
dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan.
Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran
dari seluruh kenyataan.
- Paul Nartorp (1854 – 1924 )
Filsafat
sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan
manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
- Imanuel Kant ( 1724 – 1804 )
Filsafat
adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan
pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.Apakah
yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
- Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
- Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
- Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
- Notonegoro
Filsafat
menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang
tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
- Driyakarya
Filsafat
sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan
berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa
yang penghabisan “.
- Sidi Gazalba
Berfilsafat
ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu
yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
- Harold H. Titus (1979 )
Filsafat
adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang
biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau
pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi :
- Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan;
- Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep );
- Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
- Hasbullah Bakry
Ilmu
Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai
Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan
tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan
itu.
- Mr.Mumahamd Yamin
Filsafat
ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia
menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
- Prof.Dr.Ismaun, M.Pd.
Filsafat
ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara
sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal,
integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki
(pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
- Bertrand Russel
Filsafat
adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains.
Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai
masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh,
tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian
akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
CIRI-CIRI FILSAFAT:
- Konseptual :
aktivitas berfilsafat tidak membatasi diri pada data-data empiris yang konkret. Filsafat membutuhkan daya abstraksi yang tinggi agar tiba pada konsep-konsep universal tentang realitas. (butuh daya imajinasi dan kekuatan abstraksi yang tinggi)
- Koheren :
konsep-konsep yang diciptakan dalam pemikiran filsafat haruslah runtut, mempunyai pertalian satu dengan yang lain. Konsep-konsep tidak bertabrakan satu thadap yang lain atau saling bertentangan secara tidak masuk akal.
- Logis dan sistematis
logis
berarti benar menurut penalaran akal sehat dan tidak mengandung kontradiksi.
Sistematis berarti konsep-konsep koheren itu membentuk satu kesatuan
integratif.
- Komprehensif :
semua konsep-konsep yang koheren, logis, dan sistematis berkumpul menjadi satu keseluruhan pengalaman tentang realitas dan manusia.
O. ILMU PENGETAHUAN
Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan
meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.
Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu
memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian
ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya. lmu bukan sekedar pengetahuan (knowledge),
tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara
sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.
Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir
lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah
produk dari epistemologi.
P. ILMU PENGETAHUAN MENURUT
BEBERAPA AHLI
- Ashley Montagu, menyebutkan bahwa “Science is a systemized knowledge services form observation, study, and experimentation carried on under determine the nature of principles of what being studied.” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam suatu system yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip hal yang sedang dipelajari).
- Harold H. Titus, mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).
- Dr. Mohammad Hatta, mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya
Ilmu (Bahasa Inggeris:Knowledge)merujuk kepada kepahaman manusia terhadap
sesuatu perkara, yang mana ia merupakan kepahaman yang sistematik dan
diusahakan secara sedar. Pada umumnya, ilmu mempunyai potensi untuk
dimanfaatkan demi kebaikan manusia. Biasanya, ilmu adalah hasil daripada kajian
trhadap sesuatu perkara. Dalam hal ini, ilmu sendiri juga boleh menjadi sasaran
kajian dan menghasilkan apa yang dikenali sebagai “ilmu mengenai ilmu”, yakni
epistemologi.
Ciri-ciri Ilmu adalah sebagian daripada aspek kognitif yang terdapat dalam diri
manusia. Maka dengan itu ilmu adalah berkaitan dengan aspek kognitif manusia
yang lain seperti pengetahuan, pengalaman, dan juga perasaan. Tetapi pada masa
yang sama, ilmu adalah berbeda dengan perkara-perkara ini dan ciri-cirinya adalah
seperti berikut: Ciri ini membedakan ilmu dengan perasaan dan pengalaman.
Contohnya, sesetengah “pengalaman diri” seperti mimpi adalah sukar
dipertuturkan melalui bahasa. Tetapi bagi ilmu, ia haruslah sesuatu yang dapat
dipertuturkan melalui bahasa. Ilmu mempunyai nilai kebenaran Sesuatu yang
digelar sebagai ilmu biasanya dianggap benar. Ciri ini membedakan pengucapan
ilmu dengan pengucapan sasastera yang biasanya mengandungi unsur-unsur tahayul.
Ilmu pengetahuan adalah objektif. Ciri ini bermaksud bahawa ilmu adalah sesuatu
yang tidak dapat diubah menurut keinginan ataupun kesukaan seseorang individu.
Ilmu diperolehi melalui kajian. Ilmu adalah hasil daripada kajian. Ia bukanlah
sesuatu rekaan. Ilmu mengenai cara memeroleh ilmu itu dikenali sebagai
perkaedahan penyelidikan ilmiah Kandungan Ilmu sentiasa bertambah Ilmu adalah
sentiasa berada dalam proses pertemabahan, pemantapan dan penyempurnaan.
ilmu adalah sesuatu yang membedakan kita dengan mahluk tuhan lainnya seperti
tumbuhan dan hewan. Dengan ilmu kita dapat melakukan,membuat,menciptakan
sesuatu yang dapat membawa perbedaan yang lebih baik bagi diri kita sendiri.
Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang
mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat
ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam
yang telah ada lebih dahulu.
1. Objektif. Ilmu harus memiliki
objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat
hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat
bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam
mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu
dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif
berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk
meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran.
Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin
kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti:
cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan
umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.
Sistematis. Dalam perjalanannya
mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan
terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu
sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan
rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara
sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran
universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga
bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat.
Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya
berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia.
Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus
tersedia konteks dan tertentu pula.
Ilmu pengetahuan adalah pengumpulan pengertian tentang suatu hal
yang kita dapat karena “tahu”. Tahu berarti :
–
menyerap perangsang indera
–
berkesan, dan
–
mengerti kesan itu.
Proses dari menerima perangsang indera bisa kita alami melalui :
–
Melihat – indera penglihat.
–
Mendengar – indera pendengar.
–
Mencium – indera pencium.
–
Meraba – indera perasa dan.
–
Merasa – indera pengecap. Banyak orang mencapai sukses dengan pengetahuan yang
dimilikinya. Orang yang memiliki pengetahuan bisa mengelola sumber daya alam,
menciptkan teknologi yang berguna untuk menusia dan sebagainya
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Agama
dalam bahasa sansekerta terdiri dari kosa kata ”a” berarti “tidak” dan “gama”
yang berarti kacau. Jadi kalau kedua kata itu digabungkan maka agama berarti
tidak kacau. Istilah yang ke dua adalah “ugama” yang berarti
“peraturan”, “tata tertib”, “hukum taurat”. Dari kedua kata diatas dapat
disimpulkan bahwa agama adalah upaya manusia untuk mengaitkan dan menyesuaikan
seluruh hidupnya dengan tata tertib, hukum serta peraturan Ilahi. Sehingga
relasi dengan yang Ilahi, manusia dan alam dapat berjalan dengan baik dan
tertib.
Nilai
dalam agama , Yaitu Nilai
spiritual yang tetap menjaga agar masyarakat tetap konsisten dalam menjaga
stabilitas lingkungan, Nilai kemanusiaan yang mengajarkan manusia agar dapat saling
mengerti satu sama lain, dan dapat saling bertenggang rasa.
Filsafat
adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep
dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan
Para
filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai filsafat, namun batasan yang
berbeda itu tidak mendasar. Selanjutnya batasan filsafat dapat ditinjau dari
dua segi yaitu secara etimologi dan secara terminologi.
Pengertian
filsafat secara
terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai
dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya.
Secara etimologis, logika adalah
istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos.
Kata logos berarti: sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (fikiran),
kata, atau ungkapan lewat bahasa. Kata logikos berarti mengenai sesuatu yang
diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai
percakapan atau yang berkenaan dengan ungkapan lewat bahasa. Dengan demikian,
dapatlah dikatakan bahwa logika adalah suatu pertimbangan akal atau pikiran
yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Sebagai ilmu, logika
disebut logike episteme atau dalam bahasa latin disebut logica scientia yang
berarti ilmu logika, namun sekarang lazim disebut dengan logika saja.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Mubarrak, Zakky, 2008. MPKT Buku Ajar II: Manusia, Akhlak, Budi Pekerti
dan Masyarakat. Depok: Penerbit FEUI
http://gumolu.blogspot.com/
Departemen P & K, Kamus besar bahasa Indonesia, 1989,
Balai Pustaka, Jakarta.
Alex Lanur OFM Logika Selayang Pandang,
Kanisius, 1983
https://ulfamr.wordpress.com/2012/10/14/definisi-filsafat-pengetahuan-dan-ilmu-pengetahuan
-beserta-persamaan-dan-perbedaannya/
0 komentar:
Posting Komentar